Perencanaan Keuangan Keluarga ala Nabi Yusuf

Oleh : Hendro Wibowo | Sekretaris Ikatan Ahli Ekonomi Islam & Ketua Prodi Perbankan Syariah STEI SEBI |

Sumber foto: etftrends.com

Seiring berjalannya sistem perekonomian di zaman modern sekarang ini, yang mayoritas diberbagai negara menggunakan sistem ekonomi kapitalis dan sebagai akibatnya banyak dari berbagai negara seperti negara-negara di Amerika, Eropa bahkan asia dan khususnya di Indonesia terkena imbasnya yakni krisis golbal, namun kejadian ini tidak bisa dihadiri oleh negara lain yang terkena imbasnya. Oleh sebab itu perlu strategi khusus berkaitan dengan bagaimana cara mengantisipasi permasalahan tersebut, terutama dalam kondisi secara individu salah satunya adalah bagaimana kita mengelola keuangan kita sendiri agar menjadi lebih baik dan bisa mengantisipasi terjadinya krisis global yang berulang kali, yang sangat familier kita dengar adalah sistem perencanaan keuangan atau dikenal dengan istilah Financial Planning hal ini masih dianggap sebagai bahan yang baru, sehingga saat ini sangat tepat bahwa perencanaan keuangan perlu disosialisasikan dan dikembangkan bagi penopang keuangan khususnya adalah keuangan keluarga. Namun, jauh sebelumnya istilah financial planning menjadi populer pada masa sekarang, bahwa Islam telah mengenal istilah perencanaan keuangan jauh beberapa ribu tahun yang lalu.

Alkisah pada suatu zaman dimesir Seorang pemuda tampan dan baik dijebak dalam skandal yang melibatkan seorang istri pembesar Mesir. Pemuda tersebut bernama Yusuf dan diakui dalam Islam bahwa Yusuf adalah seorang Nabi dan Rasul, bukan hanya itu saja, bahwa nabi Yusuf dikenal dan pandai dalam menafsir sebuah mimpi yang merupakan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Yusuf. Sebagaimana Allah berfirman  dalam Surat Yusuf : 36

Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda kedalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur” dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi, membawa roti diatas kepalaku, sebagaiannya dimakan burung.” Berikanlah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang yang berbuat baik”.

Nah ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa Nabi Yusuf, pada saat berada di penjara disuruh oleh rekan sesama penjaranya untuk mentakwil mimpi yang pernah dia alami. Bahkan pada suatu hari, raja mesir yang telah memenjarakan nabi Yusuf a.s bermimpi dimana mimpi tersebut berbunyai bahwa ia melihat tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus. Dan Raja juga melihat dalam mimpinya tujuh tangkai gandum yang subur, dan tujuh tangkai gandum yang kurus. Hari-hari selanjutnya Raja tetap gelisah karena tak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi ini. Dan akhirnya tukang kebun kerajaan, memberitahukan kepada raja bahwa ada seorang pemuda yang pintar, cerdas dan lain sebagainya dimana beliau dapat mentakwil mimpi siapa saja yang pernah dialami, akhirnya Nabi Yusuf mentakwil mimpi raja tersebut dan mengartikan bahwa dari mimpi itu dimana negeri ini akan mengalamai bercocok tanam secara beturut-turut selama tujuh tahun sebagaimana biasa dan kemudian apaa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit kalian makan, dan sebaliknya bahwa setelah mengalami masa panen selama tujuh tahun kemudian negeri ini akan mengalami masa paceklik selama tujuh tahun, sehingga kita (masyarakat) disuruh untuk menghemat pada masa bercocok tanam dengan tujuan agar pada saat terjadi paceklik masyarakat dapat mampu bertahan hidup dalam menghadapi kondisi demikian.

Dengan mentakwil mimpi ini, akhirnya sang raja sangat berkesima dengan kepandaian dan kecerdasan Nabi Yusuf, dan akhirnya Nabi yusuf di bebaskan dari penjara dan kemudian Nabi Yusuf diangkat sebagai seorang bendaharawan dari raja mesir. Akhirnya kondisi yang takwil oleh Nabi Yusuf terjadi dan karena sudah direncanakan, dikelola dan manajemen dengan baik akhirnya kehidupan masyarakat mesir pada zama Nabi Yusuf berjalan lancar.

Nah melihat cerita diatas yang telah diulas dan dituang dalam surat yusuf, yang sangat berarti bagi kita dan apalagi menghadapi kondisi pada saat ini dimana kondisi krisis global yang sedang terjadi tidak hanya berdampak suatu negara secara global melainkan berdampak pada individu kita masing-masing, tetapi yang menjadi permasalahan adalah apabila kita belum siap untuk menghadapinya. Oleh sebab itu, mulai dari sekarang kita harus siap untuk menghadapi kondisi apapun baik krisis maupun kondisi lainnya, sehingga sesungguhnya dalam kondisi apapun kita harus siap menghadapinya dalam hal merencanakan dan mengelola apapun, khususnya berkaitan dengan mengelola keuangan pribadi bagi yang belum menikah maupun mengelola keuangan keluarga bagi yang sudah menikah, sehingga pada saat 7 tahun atau bahkan lebih kita bisa mempersiapkan lebih dini, untuk menghadapi kehidupan yang lebih baik lagi.

Wallahu’alam bishowab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>